Manusia Bernama Amy

Jadi, Amy kini telah semakin beranjak dewasa. Memulai fase usia dari seorang pemudi. Bahagia seharusnya. Dari tadi ia berdialog sendiri. Lepas bagai burung dara yang mengudara. Tentang siapa dirinya kini. Juga tentang masa lalu. Tentang pilihan. Juga tentang takdir, mungkin. Masih ingat benar bagaimana dulu ia diburu, disekap dan disiksa. Dilecehkan, ditindih paksa dan diperdagangkan…

Lagi dan Lagi

Semalam kita kembali bertemu. Membekukan waktu di toko buku. Kau tenggelam dengan Rilke. Sedangkan aku menggila bersama Sartre. Mungkin, kita adalah dua jiwa yang doyan membongkar rahasia di balik tumpukan buku tua. Pecandu mimpi-mimpi absurd dan ide-ide yang sering disangka tak akan linear dengan dunia. Hallo Strangers! Itu sambutmu dengan notasi yang pasti. Kala dulu,…

Bus 03

Jeannie, gadis belia yang telah menjadi penumpang setia dari sebuah mesin usang. Yang mana kemudinya sudah terlalu lelah menembus embun pekat di waktu malam. Mungkin satu atau dua tahun lagi, akan hanya dianggap sebagai onggokan besi tua. Tidak ada yang tahu siapa gerangan Jeannie sebenarnya. Yang jelas, ia selalu duduk di barisan kursi yang kedelapan….

Bunga

“Kata ibu guru tadi, taman belum sah disebut taman jika tidak ada bunga yang tumbuh di dalamnya,” ucap Bujang, anakku saat makan malam berdua. Aku menganggukkan kepala tanda setuju, sedang pikiranku jauh bertualang menuju molek lekuk tubuh guru yang disebutkannya barusan. Bujang tidak puas, setelah selesai mengunyah kulit ayam renyahnya, ia mulai bertanya. “Lalu, kenapa…

Masuk Surga ?

Seperti malam-malam sebelumnya, pria itu selalu langsung duduk sambil menghisap sebatang rokok, setelah selesai berhubungan badan dengan si wanita. Ia memperhatikan dengan begitu seksama saat pasangannya mulai kembali berpakaian. Seakan-akan sedang merekam setiap lekuk tubuh itu sebelum sang empunya menutupnya kembali. “Bercinta denganmu, sungguh seperti menikmati surga dunia, apa jadinya jika kita bercinta di surga…

Di Atas Sana

“Sedang apa?” Mira menyadarkanku sambil ikut rebah di sisi sebelah kiri. “Seperti biasa. Memandang angkasa.” Jawabku tanpa perlu menoleh ke arahnya. Mira kemudian seperti sedang menggambar sesuatu dalam benaknya sendiri. Menghubungkan bintang-bintang menjadi sebuah wujud khayal tertentu. “Kata orang, kita bisa menemukan bagaimana prediksi kehidupan kita dari pola titik-titik terang di atas sana.” “Kata siapa?”…

Diam di Rumah

Tadinya, dalam pikiran seorang gadis seperti Hanna, patriarki adalah budaya yang diturunkan dan dipaksakan oleh kaum pria. Bagi Hanna, budaya tersebut merupakan sebuah ketidakadilan, yang mana posisi perempuan akan selalu berada di titik marjinal. Hari ini, ia duduk bersama sang ibu dan eyang yang sedang mempersiapkan dirinya untuk menikah. Eyang terus tersenyum sambil memandangi cucunya…