ELORA

Disclaimer : Tulisan berikut merupakan bentuk promosi untuk sebuah zine.

2022, layaknya seperti sebuah awal baru bagi saya. Setelah dua tahun ditempa oleh pandemi dan segala pembatasan yang mengiringi, tahun ini saya merasa diguyur banyak kesempatan untuk berkolaborasi.

2020 dan 2021, saya memilih untuk lebih menyibukkan diri dengan karya-karya pribadi. Kalau pun ada yang sifatnya kolaborasi, bukanlah yang mengharuskan saya untuk berkomitmen lama. Sekali jadi, ya sudah, beres.

Berbeda dengan sekarang, saya yang mulai kembali bekerja sama dengan rekan lama dan juga baru dalam proyek-proyek berkala. Tentu saja akan dan telah ada beberapa ‘drama’ yang hadir sebagai bumbu. Masalah perijinan gak tembuslah, ketinggalan pesawat, paragraf yang tidak mau sejajar setelah dikonversi dan masih banyak lagi PR yang hadirnya malah dadakan. Namun perlahan, saya sadar bahwa ternyata merindukan itu.

Benci tapi rindu kalau kata orang dulu mah. Dan sepertinya sih memang dibutuhkan.

Elora adalah salah satu karya kolektif yang baru saja lahir dan sudah dapat dibaca oleh kawan-kawan semua. Adalah sebuah media alternatif yang membahas budaya populer dari berbagai sudut pandang. Ulasan pada setiap edisinya meliputi film, musik, literasi, budaya, dan gaya hidup.

Tercetus di sela-sela celotehan malam, dilanjut dengan obrolan yang ditemani dua cangkir kopi, beberapa panggilan telepon dan virtual meeting, didorong oleh semangat nge-punk kala remaja dulu serta rangkaian proses lainnya, maka pada bulan Juli ini, rampunglah sudah edisinya yang perdana dengan mengangkat tema “Pertama”.

Sebuah tema yang terdengar sangat sederhana, tapi rupanya cukup tricky juga jika dikembangkan ke dalam bentuk artikel atau cerita. Namun itulah yang membuat proses perumusan Elora ini seru.

Tersusun belasan karya kolektif dari berbagai pekarya dengan latar belakang yang berbeda, dan bukan hanya yang sejenis artikel saja sebetulnya. Mulai dari bahasan mengenai apa yang terjadi di industri musik tanah air, surat yang amat manis dari seberang sana, kreasi warna anak umur lima tahun sampai kutipan dari aspal jalanan bisa kawan-kawan temukan di sini.

Bukan karya yang sempurna tentu saja, dan saya pastikan bahwa tidak akan pernah menjadi sempurna, mau di edisi berapa pun itu. Karena bukankah ketidaksempurnaanlah yang menjadikan segalanya indah? Setidaknya itu yang saya tangkap dan percayai sejak mulai ber-wabisabi setahun yang lalu.

Well, ya sudah, daripada nantinya malah bakal ngalor ngidul ke mana-mana, lebih baik dicukupkan saja tulisan saya kali ini. Hehe..

Jadi, Elora dapat diunduh gratis lewat tautan berikut : elora.zine.

Selamat berelora!

Rakha

18 Comments Add yours

  1. selseya berkata:

    Kereeenn maass.. sukses selalu 😇

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s