Ulang Tahun

Pagi ini amat berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Aku terbangun oleh gaduh riuh di luar kamar, tepatnya dari arah dapur. Bila itu kamu, pasti ini sesuatu yang baru. Aku sempat kesal, saat melihat pecahan piring yang berserakan di lantai, hadiah pesta pernikahan kita tahunan yang lalu. Berjinjit melangkah mendekatimu yang sedang terduduk lesu. Entah apa yang…

Aku

Seorang manic-depresif yang anarkis. Itulah analisaku sendiri. Jangan tanya mengapa aku bisa tega menyimpulkan hal seperti itu, terlebih kepada diriku sendiri. Yang jelas, aku tahu benar bagaimana hidupku sendiri. Imajinasi dan realita bergaris sangat tipis, dan anehnya keduanya dapat berjalan bersinergi, walau terkadang keduanya juga bisa berabstraksi dalam seketika. A sophisticated simplicity, itu pendapat sahabatku…

Chekhov vs Tolstoy

Tanpa ada niatan untuk mengesampingkan Dostoevsky, Pushkin, Gogol dan yang lainnya, tapi setidaknya dalam lingkup pergaulan saya, adalah nama Chekhov dan Tolstoy yang paling sering digaungkan jika ada diskusi mengenai literatur Rusia. Pada tahun 1895, Anton Chekhov yang pada saat itu berusia 35 tahun, dalam pertama kalinya bertemu Leo Tolstoy yang usianya sudah menyentuh angka…

Senja Melulu

Dia sudah mulai jemu dengan senja. Padahal ada beberapa kenangan yang tersimpan rapi di arsip retina. Mulai dari sebuah senja sederhana di warung kopi Surakarta, keagungan senja dari balik pura pulau Dewata, sampai yang sophisticated lewat sudut pandang lantai sembilan ibukota. Dulu, dirinya sempat membayangkan senja sebagai suasana kala Dewi Kirana melepas rindu, tanda saat…

Malah Buntung

Setelah melalui proses negosiasi hebat, akhirnya hari ini aku bisa bertemu dengan sang waktu. Sosok misterius yang begitu aku benci. Sosok yang menjadi penyebab dari seluruh derita panjangku di dunia. Ia sedang duduk di sebuah kursi malas, memandang ke arah jendela, hanya ditemani oleh secangkir teh. Berpakaian setelan formal, hampir mirip dengan yang dipakai oleh…

Aku dan Ibu

“Bu, aku lapar.” “Sebentar ya, Nak. Ibu sedang menghangatkan sayur sup kesukaanmu.” 20 tahun kemudian. “Nak, Ibu lapar.” “Sebentar ya, Bu. Kebetulan, aku sedang menunggu pesanan GoFood neapolitan pizza kesukaanku.”

Takhayul

Jane pertama bertemu Wira saat sedang duduk menunggu di sebuah koridor busway. Saat itu, Jane langsung tertarik dengan gerak-geriknya yang kikuk namun punya garis wajah yang sangat berani. Sebuah paradoks yang multi arti. Setelah beberapa kali berkencan, Jane akhirnya mengetahui bahwa Wira hidup dengan berbagai perundungan hebat, tidak hanya saat ia kecil tapi juga sampai…