Misi Nova

Hari ini Nova punya satu misi. Menghabiskan cuti pendek yang sedang dijalani untuk menulis Ulysses-nya sendiri. Kabur dari cara yang konvensional, menghanyutkan diri dalam teknik arus kesadaran.  Bisa atau tidak? Terus, bakal jadi benar atau malah keliru? Ah, coba sajalah dulu. Berprofesi sebagai admin traffic di sebuah startup rumahan, ia tentu saja belum mampu menulis…

Dasar Kau Antologi!

Beginilah jika punya kekasih yang doyan melarikan diri. Bereinkarnasi seenaknya menjadi sebuah buku antologi. Kenapa coba tidak memilih lahir kembali sebagai elang atau lumba-lumba? Jadi aku tinggal mencarimu ke angkasa juga samudera. “Aku ingin menjadi sesuatu yang berbeda,” sebutmu dulu lewat sebuah surat elektronik. Kupikir kau sedang meracau saja, Sayang. Ceritamu yang telah jemu dengan…

Mengganti Bunda

Tahunan sudah sejak terakhir kulihat senyum genitmu itu. Yang kerap terlukis saatku pulang kerja. Di sela macetnya ibu kota, kau selalu berpesan bahwa aku akan selalu selamat sampai di rumah. Ke peraduan kita. Lalu semuanya selesai. Kala kau diculik tiba-tiba oleh generasi yang lupa diri. Digerayangi, ditindih bertubi-tubi kemudian adegannya dibagikan jadi konsumsi recehan di…

Malaikat juga Lesu

Anya tadinya adalah seorang anak yang sangat aktif dan menggemaskan. Selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Kemudian semua jadi berubah dengan tiba-tiba. Entah kenapa, anak itu jatuh sakit tiga tahun yang lalu. Mengalami kejang demam yang mengakibatkannya menjadi bisu. Dan lantaran itu juga, kedua orangtuanya tidak pernah putus asa mencari cara agar…

Ulang Tahun

Pagi ini amat berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Aku terbangun oleh gaduh riuh di luar kamar, tepatnya dari arah dapur. Bila itu kamu, pasti ini sesuatu yang baru. Aku sempat kesal, saat melihat pecahan piring yang berserakan di lantai, hadiah pesta pernikahan kita tahunan yang lalu. Berjinjit melangkah mendekatimu yang sedang terduduk lesu. Entah apa yang…

Bibir Merah pada Halaman Empat Belas

Saat ini, aku sedang menunggu di sisi jalan. Duduk di tepi trotoar perempatan Pajajaran. Sebatang rokok di tangan kanan, sedang yang lain menderapkan jemarinya pada dagu. Mengapa kita sendirian? Sebenarnya aku juga sedang mencoba mengingat raut wajahnya. Mengulang, mengucap setiap janjinya. Ketika aku dan dia sedang berlagak layaknya Mulder dan Scully. Namun sayang, pada babak…

Aku

Seorang manic-depresif yang anarkis. Itulah analisaku sendiri. Jangan tanya mengapa aku bisa tega menyimpulkan hal seperti itu, terlebih kepada diriku sendiri. Yang jelas, aku tahu benar bagaimana hidupku sendiri. Imajinasi dan realita bergaris sangat tipis, dan anehnya keduanya dapat berjalan bersinergi, walau terkadang keduanya juga bisa berabstraksi dalam seketika. A sophisticated simplicity, itu pendapat sahabatku…