Aku

Seorang manic-depresif yang anarkis. Itulah analisaku sendiri. Jangan tanya mengapa aku bisa tega menyimpulkan hal seperti itu, terlebih kepada diriku sendiri. Yang jelas, aku tahu benar bagaimana hidupku sendiri. Imajinasi dan realita bergaris sangat tipis, dan anehnya keduanya dapat berjalan bersinergi, walau terkadang keduanya juga bisa berabstraksi dalam seketika. A sophisticated simplicity, itu pendapat sahabatku…

Lagi dan Lagi

Semalam kita kembali bertemu. Membekukan waktu di toko buku. Kau tenggelam dengan Rilke. Sedangkan aku menggila bersama Sartre. Mungkin, kita adalah dua jiwa yang doyan membongkar rahasia di balik tumpukan buku tua. Pecandu mimpi-mimpi absurd dan ide-ide yang sering disangka tak akan linear dengan dunia. Hallo Strangers! Itu sambutmu dengan notasi yang pasti. Kala dulu,…

Bus 03

Jeannie, gadis belia yang telah menjadi penumpang setia dari sebuah mesin usang. Yang mana kemudinya sudah terlalu lelah menembus embun pekat di waktu malam. Mungkin satu atau dua tahun lagi, akan hanya dianggap sebagai onggokan besi tua. Tidak ada yang tahu siapa gerangan Jeannie sebenarnya. Yang jelas, ia selalu duduk di barisan kursi yang kedelapan….

Bunga

“Kata ibu guru tadi, taman belum sah disebut taman jika tidak ada bunga yang tumbuh di dalamnya,” ucap Bujang, anakku saat makan malam berdua. Aku menganggukkan kepala tanda setuju, sedang pikiranku jauh bertualang menuju molek lekuk tubuh guru yang disebutkannya barusan. Bujang tidak puas, setelah selesai mengunyah kulit ayam renyahnya, ia mulai bertanya. “Lalu, kenapa…

Limbo

Sudah dua tahun aku mengurung diri di sini. Bersemedi sendiri bersama playlist subliminal yang tanpa batas. Orang bilang, katanya aku ini sedang digodok dalam kawah Candradimuka. Walau sejujurnya, aku sedang menghindar dari mereka semua. Penat, lesu dan jemu dari dunia. Menciptakan sebuah limbo adalah sebuah solusi yang paling masuk akal dengan segala keterbatasan yang ada….

Masuk Surga ?

Seperti malam-malam sebelumnya, pria itu selalu langsung duduk sambil menghisap sebatang rokok, setelah selesai berhubungan badan dengan si wanita. Ia memperhatikan dengan begitu seksama saat pasangannya mulai kembali berpakaian. Seakan-akan sedang merekam setiap lekuk tubuh itu sebelum sang empunya menutupnya kembali. “Bercinta denganmu, sungguh seperti menikmati surga dunia, apa jadinya jika kita bercinta di surga…

Di Atas Sana

“Sedang apa?” Mira menyadarkanku sambil ikut rebah di sisi sebelah kiri. “Seperti biasa. Memandang angkasa.” Jawabku tanpa perlu menoleh ke arahnya. Mira kemudian seperti sedang menggambar sesuatu dalam benaknya sendiri. Menghubungkan bintang-bintang menjadi sebuah wujud khayal tertentu. “Kata orang, kita bisa menemukan bagaimana prediksi kehidupan kita dari pola titik-titik terang di atas sana.” “Kata siapa?”…