Hilang

Jangan tanyakan aku dimana, karena sebenarnya aku terus mengamatimu dari sini. Jangan juga tanyakan aku kenapa, karena apapun yang kurasa, bisa jadi hanya sementara. Aku tidak menyangkal, bahwa pergi adalah tingkah seorang pengecut. Silakan saja sebut seperti itu. Aku takan mendebat atau mengelak. Aku memang pergi seperti seorang kapten yang meninggalkan armadanya. Dunia ini bukan…

Martabak Andir

Pernahkah kau merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia? Tujuh puluh ribu, seharusnya dapat menjadi puluhan kilo beras raskin bagi keluarga yang tidak mampu. Namun dengan egoisnya, kubelikan martabak Andir agar dapat sedikit meluluhkan hati ayahmu semata. Harusnya tadi kuputuskan membeli setengah porsi saja, lalu sisanya untuk mereka yang menatap iba di sisi jalan….

Cinta, Kami Minta Puisi yang Baru

Mengapa harus lari ke hutan lalu ke pantai? Jika antartika saja bisa dijelajahi lewat layar 8 inci. Mengapa juga harus pecahkan gelasnya biar ramai? Hanya lewat tagar, kini semua bisa kok membuat gaduh. Puisimu sudah tidak valid lagi, Cinta. Bisa buatkan kami puisi yang baru? Alangkah indah bila puisi tersebut, bisa terus sejalan jaman, tanpa…

Dari Lusi Untuk Rudi

Dulu dengan entengnya, kau sempat berkata bahwa aku harus belajar menendang ombak, agar bisa menjaga diriku sendiri. Aku kaget setengah mati, bukankah itu tugas seorang pria untuk terus menjaga wanitanya? Dengan santainya, kau pernah berucap bahwa aku harus menimba ilmu semesta, agar mampu mencukupi hidupku sendiri. Aku benci dirimu saat itu. Apa sebenarnya arti diriku…

Dari Rudi Untuk Lusi

Sesungguhnya aku akan selalu mencintaimu dan berusaha untuk tidak akan pernah menepikanmu. Bagaimana mungkin? Kau ada saat tata surya menyanjungku, menghilang sejenak saat kulupa diri, kemudian kembali hadir saat diri ini menangis terkapar sendiri. Saat aku membenci Bumi, dengan sabarnya kau membimbingku untuk mau bersujud di depan Tuhan. Tahukah dirimu, bahwa senyum kecil itu telah…