Kirik

Alkisah, hiduplah seorang ibu dan anaknya di kaki gunung tatar Parahyangan. Sang ibu adalah perempuan yang lembut juga jelita. Sedangkan si anak merupakan remaja yang aktif dan selalu ingin tahu.

Pada suatu sore, si anak pulang dengan sebuah kabar yang mencengangkan. Ia baru mendapatkan segala informasi mengenai teori evolusi. Dengan terbata, ia mencoba meneruskannya pada sang ibu.

“Bukannya teori evolusi itu hanya sekedar teori kan? Namanya juga teori, Nak.” Ibunya coba mendebat informasi tersebut.

“Bukan begitu,Bu. Teori ilmiah itu beda dengan pengertian teori yang sehari-sehari sering kita gunakan.”

“Yah, ibu gak tahu, Nak. Gak ngerti soal ilmiah-ilmiahan. Ngertinya hanya soal waluh, bonteng atau juga pare.”

“Masalahnya, aku ini gak mau kalau harus sepupuan sama kunyuk. Jijik!” Seru sang anak yang kemudian berlalu menuju kamar.

Pengetahuan baru itu ternyata mengubah sikap si anak dengan drastis. Tidak lagi periang dan serba penasaran. Hari-hari setelahnya hanya dihabiskan dengan bermain bersama seekor anjing di belakang rumah.

Ibunya tentu sangat paham, bahwa kera adalah hewan yang paling anaknya benci. Tidak terhitung sudah berapa kali mereka harus rela makan ubi tanah berhari-hari, hanya karena hasil kebun yang lenyap dirampok oleh kawanan Owa.

Perempuan itu juga tidak akan pernah kehabisan akal untuk membuat anaknya kembali normal.  Ia paham betul jika si anak teramat mencintai hewan anjing. Bukan hanya yang jadi peliharaan saja, tapi juga anjing-anjing hutan yang sering diajaknya bermain. Lagipula, ada sebuah rahasia penting yang harus disampaikan.

Duduklah sang ibu di sebelah si anak yang sedang bercanda dengan Tumang, anjing peliharaan mereka. Dibelai jugalah rambut anaknya yang sudah berwarna coklat kemerahan akibat terlalu sering terpanggang sinar matahari.

“Kamu itu bukan sepupunya kunyuk, Nak.” Lembut sang ibu sambil mencubit pipi si anak.

“Lalu?” Sela remaja tersebut. “Sudahlah, Bu. Aku, ibu, tetangga sebelah. Kita itu semuanya sepupuan sama kunyuk.”

“Kamu itu spesial, Nak. Berbeda dengan ibu, apalagi dengan tetangga.”

Anaknya kini mulai menatapnya serius. Bahkan saat Tumang kembali membujuk untuk melanjutkan bermain, si anak sama sekali tidak memperdulikannya. Lalu kemudian Tumang mendekati Sang ibu, yang kini sedang membuka kedua tangan ‘tuk memeluknya.

“Kamu itu kirik, Nak. Bukan begog.” Kemudian ia memeluk dan mencium anjing itu. “Dan Tumang ini bapakmu.”

Sayangnya, semua perkiraan perempuan tersebut ternyata keliru. Remaja lelaki itu berdiri dan mulai memakinya dengan kata-kata kasar. Kini ia malah menjadi benar-benar murka.

Tumang yang terkejut, melompat ke arahnya. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menenangkan. Dengan cara hewan berkaki empat tentu saja. Namun dengan tega, si anak menendang anjing tersebut sampai mengaing kesakitan.

Tak terima suaminya diperlakukan demikian. Sang ibu dengan spontan menampar remaja tersebut. Si anak hanya diam membeku. Tak lama ia meludahi tanah, kemudian berlari pergi.

Semenjak hari itulah, Sangkuriang mengembara seorang diri. Sedangkan sang Ibu, Dayang Sumbi selalu berdoa pada setiap malamnya agar suatu hari nanti, anak semata wayangnya itu akan kembali pulang.


*kirik = anak anjing, kunyuk = kera, begog = anak kera, waluh = labu, bonteng = mentimun, pare = paria.

2 Comments Add yours

  1. atthecorner berkata:

    Kirain mau lanjut tiba-tiba Tumang menjelma jadi orang hehehe … versi happy endingnya Sangkuriang 😛

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rakha berkata:

      Tumangnya langsung balik ke khayangan, Bu. 😀

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s