Mencari Kunang-Kunang

Dua anak berlari menghampiri ‘tuk ajukan sebuah tanya. Pertanyaan yang amat menganggu. Bagaimana mungkin ada jenis manusia yang tidak tahu rupa dari kunang-kunang? Bahkan sampai-sampai menganggapnya sebagai mahkluk cerita sebelum tidur saja.

Tapi harus kuakui. Aku pun sudah lama tidak bersua dengan cahaya dari serangga istimewa tersebut. Sudah belasan tahun rasanya. Tidak ada lagi kelip mereka yang menghiasi beberapa sarangku dan persinggahan sanak saudaraku lainnya di kota ini. Baik yang berada di taman kota, maupun yang dibangun sederhana di beberapa halaman rumah.

Sesegera mungkin aku terbang melarikan diri. Tak kuasa memandang ekspresi para penanya yang pastinya akan kecewa. Harapanku, semoga saja pertanyaan mereka dapat dijawab oleh generasi manusia yang lebih tua. Yang lebih bijaksana, katanya.

Mahkluk berkaki dua, berjalan tegak dan percaya bahwa merekalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Generasi yang tumbuh dan beruntung karena sempat berburu kunang-kunang di masa kecil mereka. Namun, dengan begitu mudahnya seperti lupa setelah mereka dewasa.

Saat kupandangi kota ini dari balik selimut awan di ketinggian, aku semakin bertanya-tanya. Tentang manusia, serangga dan penghuni bumi lainnya. Tentang siapa sebenarnya yang paling sempurna.

Kenapa malah begini jadinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s