Limbo

Sudah dua tahun aku mengurung diri di sini. Bersemedi sendiri bersama playlist subliminal yang tanpa batas. Orang bilang, katanya aku ini sedang digodok dalam kawah Candradimuka. Walau sejujurnya, aku sedang menghindar dari mereka semua.

Penat, lesu dan jemu dari dunia. Menciptakan sebuah limbo adalah sebuah solusi yang paling masuk akal dengan segala keterbatasan yang ada. Toh, aku tidak mau menjadi seperti Camus. Aku masih ingin berpikiran bahwa hidup ini masih punya arti. Yah, meski hanya secuil.

Kemarin lusa, Dogma datang. Menggedor pintu seperti preman yang tiba untuk menagih hutang. Sedari di sana, ia sudah mulai membentak dan menghakimiku dengan ancaman absurdnya.

Aku ini bukan orang baru di dunia fana. Tentu saja ia tak kuperbolehkan masuk. Kuberikan waktu baginya untuk terus bersabda dengan urat yang mengeras di batang kepalanya.

Setelah ia sejenak berhenti untuk menghela nafas, aku mulai balik menceramahinya dengan kalimat-kalimatnya sendiri. Logika yang hanya sakti jika aku ditempatkan dalam sebuah periuk timbang.

Kemudian kusebutkan saja, kalau ia bukanlah sebuah produk surga. Ia hanya produk manusia yang malah sering dijadikan alat politik semata. Paling ampuh dan paling laris juga.

Tanpa bantahan, ia pergi sambil mendumal sendiri. “Kau memang tak pantas jadi bagian dunia,” kesalnya sambil lalu.

Kemarin, ada seorang tamu lagi yang datang. Perangainya jauh berbeda dengan tamuku sebelumnya. Yang mana, menjadi alasan pokok untuk mempersilakannya masuk.

Kusuguhi Norma dengan secangkir teh hangat dan beberapa biskuit kering. Ia tersenyum lalu tentu saja mulai mengguruiku. Kudengarkan, kusimak semua dengan baik sampai ke titik komanya.

Saat ia berhenti dan sajian di meja sudah habis, dengan penuh hormat kupersilakan dirinya untuk pergi. Lewat intonasi yang lembut, kutitipkan pesan padanya. Misal lain kali ia datang kembali, cobalah untuk mengajariku lewat perspektif yang berbeda.

Terdiam kemudian melangkah pergi sambil terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku amat yakin, ia pasti telah kecewa. Aku tak peduli karena ia memang pantas mendapatkannya.

Pagi ini, aku hendak memulai hari dengan membaca surat kabar. Namun tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu dengan ketukan yang begitu unik. Sebuah tempo yang teramat baru. Kuintip dari balik jendela, tak terlihat ada siapa pun di sana.

Dengan penasaran, kubuka pintu secepatnya. Dan benar-benar tidak ada seorang pun di depan limboku ini. Hanya ada tapak sepatu dan nuansa sejuk yang tak dapat kudeskripsikan di sini.

Tanpa terasa, air mata mulai menetes dari pelupuk mata. Entah kenapa, tapi aku mulai merasa bahagia.

“Tuhan?”

Pertanyaanku barusan tidak mendapat sebuah jawaban. Malahan, tapak itu mulai melangkah pergi. Tanpa pikir panjang, kuputuskan untuk mengikutinya dari belakang. Meninggalkan limbo kesayanganku ini.

Bukan karena aku takut, bukan juga karena merasa perlu,tapi karena aku tahu.

Selalu saja sesederhana itu.

2 Comments Add yours

  1. mutihhh berkata:

    Halo!
    Kalau boleh tau, kirakira ada komunitas untuk blogger yg bisa jadi saran/rekomendasi untuk bisa diikuti? I’ve been reading yours lately and it’s very good day by day. looking forward to hear from you soon!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rakha berkata:

      Thanks a lot for the compliment. Even though in fact, I still have a lot to learn in terms of writings.

      Blogger community?
      I recommend: Ikatan Kata. Here’s the following link.

      https://ikatankata.home.blog/

      I’ve learned so much from them.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s