Untuk Kung

5 Februari 2021 adalah tepat sepuluh tahun berpulangnya kakek kami tercinta. Sekarang jugalah baru sempat terpikir, bahwa saya sangat beruntung karena telah dilahirkan dalam keluarga besarnya.

Sebagai seorang purnawirawan, tentu saja cucunya juga kebagian dididik dengan kedisiplinan yang super ketat. Tapi meski begitu, beliau adalah sosok pemimpin yang lebih mengutamakan aspek humanitas dibandingkan otoritas.

Hal tersebut yang membuat keluarga besarnya kini begitu heterogen, baik suku, ras maupun agama. Perbedaan bukanlah sesuatu yang tabu di sini. Ada yang menuntut ilmu agama ke Kairo, ada juga yang mengabdi sebagai seorang biarawati.

Kung (begitulah cucu-cucunya menyebut beliau) adalah seorang knowledge junkie. Hal ini rasanya sudah mendarah daging pada kami semua. Saya adalah seorang knowledge junkie, begitu pun dengan sepupu-sepupu lainnya.

Masih ingat betul saya, saat masih kecil dulu, Kung seringkali mengajak cucu-cucunya untuk nobar, kemudian mendiskusikan film tersebut sesudahnya. Kami diajak menemukan ketidaklogisan dari serial Home Alone, atau juga makna hidup dari seorang Mr.Bean.

Beranjak remaja, saya sering diajak berdiskusi perihal pelajaran sekolah lewat perspektif yang berbeda, lepas dari panduan kurikulum pendidikan yang saya terima. Mulai dari evolusi, sejarah dunia, antariksa sampai Pancasila.

Tapi sayangnya, ritual diskusi perlahan berkurang dan menghilang semenjak cucu-cucunya mulai dewasa serta Kung yang semakin renta, sampai pada hari berpulangnya.

Jadi, untuk memperingati 10 tahun berpulangnya beliau, besok malam, saya dan beberapa sepupu sepakat untuk menggelar sebuah pertemuan daring. Ajang berdialektika. Penghormatan untuk Kung yang kami banggakan.

Kami tidak tahu sebenarnya apa yang akan dibahas besok, entah itu soal COVID-19, langkah-langkah politik Erdogan, atau mungkin hanya sekedar membicarakan rivalitas DC dan Marvel. Biarkan proses diskusi mengalir dengan apa adanya nanti.

Well, This is for you, Kung!

10 Comments Add yours

  1. atthecorner berkata:

    pasti beliau senang masih ada yang mengirim doa-doa dan kenangan

    Disukai oleh 1 orang

  2. Navia Yu berkata:

    Meneruskan ritual nobar dan diskusi itu menarik banget Mas Rakha. Nambah wawasan dan kehamonisan para cucu. Kebayang nih, Kung itu beneran orang yang seru sekali diajak berdialog dan bertukar pikiran. Rasanya saya tidak sempat untuk lebih mengenal kakek sendiri dan punya semacam kenangan deep talk gitu.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rakha berkata:

      Terima kasih atas komentarnya Kak Navia. Kami lakukan ini memang untuk mengenang beliau. Semoga saja, beliau semalam tertawa di sana saat melihatnya.

      Suka

  3. Herman Sangidu berkata:

    Mas Raka salam kenal..

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rakha berkata:

      Salam kenal juga, Mas Herman. 🙏

      Disukai oleh 1 orang

      1. Herman Sangidu berkata:

        Sering stay tune di blog mas Raka.. Banyak sekali inspirasi tertuang..saya coba tangkap barangkali saya bisa belajar untuk bisa menuangkan apa apa yg ingin saya tulis

        Disukai oleh 1 orang

      2. Rakha berkata:

        Terima kasih atas apresiasinya, Mas. Mari kita belajar bersama-sama.

        Suka

      3. Herman Sangidu berkata:

        Insyaallah …

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s