Bersinestesia

Ah, kiranya kita bisa seperti ini terus. Di sela-sela jingga matahari sore. Diiringi senandung kidung dari Laura Fygi. Kau berada di pangkuanku dan aku dalam hangatnya pelukanmu. Wajahku bersandar di dadamu, sambil terus tersenyum oleh harum aroma kulit lembutmu.

Perlahan dengan tempo yang amat khas, kau belai rambut merah ini. Aku ingat, sudah lama kau memintaku untuk merapihkan rambut tebal ini, sedangkan aku seperti biasa, tak menganggapnya secara serius.

Mungkin minggu depan, atau nanti saja bila sudah terasa gerah. Aku janji akan melakukannya, asalkan kau terus melukiskan cemberut itu lagi saat nanti mengingatkannya kembali.

Siapa yang pernah menyangka, bila sebuah cerita yang pernah tertinggal dulu, bisa menjadi nyata hari ini?

Dulu aku pernah melewatkan senyum kecilmu ini, padahal si senyum tidaklah pernah bersembunyi dariku. Aku bingung, mengapa sempat menjadi sangat bodoh waktu itu. Kau yang pernah ada tepat di hadapan dan aku melewatkannya begitu saja. Untungnya, suratan hidup bersikeras untuk terus memaksa.

Sekarang, aku bisa secara pribadi menikmati bentuk hati wajahmu, setiap kali senyum ini mengangkat pipi gembilnya. Mungkin aku adalah rubah yang paling berbahagia sekarang. Berdiam diri tanpa suara dalam peluk ini, saling menggoda seraya menyentuhkan kedua hidung kita.

Di sore ini, di kota unik ini, kita mencoba berkonsensi. Tidak perlu saling berjanji tapi mencoba untuk terus menepati. Berusaha berjalan seiring, kadang cukup liar namun tetap bergaris konvensional.

Peluklah diri ini, jangan kau lepas untuk sejenak saja. Biar kuhirup nafas hangatmu sebagai oksidan untuk tubuh sebentar saja.

Ingatkan kita untuk selalu bertahan dan menahan diri. Ini seperti sebuah nuansa alam yang aneh pada awal kita bertemu. Saling mengisi tapi tidak mendominasi. Rasa rindu yang tak pernah menjadi candu. Seiya sekata, yang bukan berarti harus selalu sewarna.

Aku akan ada bila kau berharap aku ada. Berikan aku alasan, tapi jangan pernah sodorkan pilihan.

Tak perlu ucapkan “aku mencintaimu selamanya” karena kita belum tahu batas dari kalimat itu.

Detik ini aku sangat mencintaimu” katakanlah kalimat ini saja, kapanpun kau merasakannya. Kita akan selalu paham maksud kalimat ini, setiap kali mendengarnya.

Aku ingin kita tidak hanya akan saling mencintai, karena pasti sangat membosankan nanti. Aku ingin kita terkadang saling membenci, namun akan selalu membenahi.

Aku akan menjadi rubah paling egois yang pernah kau kenal. Mungkin tidak sekarang, tapi pasti akan ada waktunya. Aku pun yakin, ada kala kau akan menjadi rubah paling galak dari semua mamalia yang pernah ada.

Ini hal yang gila memang. Tapi aku tetap ingin bersama, rasakan manis getirnya waktu.

Mati dalam peluk ini, kemudian kau mengikhlaskannya dengan senyuman tercantik yang pernah ada. Karena kau tahu bahwa aku hanya mati, bukannya hilang pergi meninggalkanmu.

Kau tentunya juga mengerti, bahwa aku harus pergi untuk mempersiapkan rumah kita nanti, lalu tersenyum memandang dari jauh sambil menunggumu pulang.

Dan kala kita bersatu kembali , di detik itulah kita akan pahami, apa makna dari “selamanya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s