Terasa Dekat karena Karya

Disadari atau tidak, setiap orang pasti mempunyai seorang idola. Baik itu tokoh agama, negarawan, seniman, selebritas atau bahkan orang yang dekat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak dapat dipungkiri juga, sosok seorang idola akan dapat terasa dekat atau bahkan bisa amat personal lewat karya-karya mereka.

Yang mana bisa berupa suri teladan, buah pikiran, riwayat perjuangan, buku, lagu atau mungkin sekedar kelakuan artifisial yang dikemas agar terlihat fenomenal.

Maka, jika ada idola yang karya-karyanya terasa dekat bagi saya. Berikut adalah beberapa di antaranya,

  • Akira Toriyama

Akira Toriyama yang secara tidak langsung, membuat saya menjadi kutu buku akut sejak kecil. Saya masih ingat jelas, sering kali rela nongkrong berjam-jam di Gramedia agar dapat membaca komik-komiknya secara gratis.

Untuk sebagian kalangan milenial, yaitu orang yang lahir pada awal tahun 80an sampai pertengahan 90an, Dragon Ball tentu saja menjadi salah satu menu bacaan yang sangat menyenangkan.

Sebuah serial komik legendaris, yang ditulis dan diilustrasikan sendiri oleh Akira Toriyama pada tahun 1984 sampai 1995. Hasil imajinasinya ini dapat disebut sebagai pelopor dari segala kepopuleran manga, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia.

  • Nh. Dini

Almarhumah nenek saya merupakan penggemar sekaligus kolektor novel. Jadi, salah satu kegiatan saya di rumah nenek, adalah membaca novel-novel tersebut. Beberapa di antaranya adalah karya dari Nh. Dini.

Saya yang adalah seorang lelaki, dapat dibuat begitu tertegun ketika membaca cerita hidup seorang wanita yang ditulis dengan sangat apik dalam novelnya, La Barka atau pun Namaku Hiroko.

Nh. Dini adalah seorang novelis legendaris Indonesia. Beliau adalah seorang penulis yang setia memperjuangkan hak-hak wanita dalam setiap novelnya. Seorang sastrawan feminis yang patut kita syukuri karya-karyanya.

  • Neil Gaiman

Dari Neil Gaiman, saya belajar bahwa surealisme ternyata dapat dituangkan dalam bentuk karya tulis. Neverwhere, Coraline, The Graveyard Books, Star Dust dan American Gods dapat membuat pembacanya merasa sedang berada di dunia yang berbeda. Dunia yang sureal.

Gaiman sendiri akan selalu menjawab dengan sebuah gurauan, jika ditanya darimana insipirasinya saat menulis sebuah cerita fantasi.

Tapi yang jelas, ia selalu tidur dengan ditemani sebuah kertas dan pena, agar dapat segera mencatat semua mimpi di kala sudah terbangun dari tidurnya.

Sebut saja, bahwa Gaiman adalah seorang pendongeng ulung di masa modern ini.

  • Agus Noor

Akan sangat lancang bila saya sampai berani untuk mendeskripsikan sastrawan yang satu ini. Mengapa? Karena beliau sendiri tidak mau menjadi seorang penulis yang dapat dideskripsikan.

Yang jelas, Agus Noor merupakan penulis nomor wahid di Indonesia. Puisi dan cerita dari beliau akan sulit untuk ditandingi oleh penulis lainnya. Kepandaiannya dalam merangkai sebuah satir, dapat membuat saya selalu terpana.

Salah satu karya beliau yang menjadi favorit saya adalah Cerita Buat Para Kekasih. Kumpulan fiksi unik yang mungkin saja dapat disalahartikan sebagai ‘cerita dewasa’.

  • Alan Moore

Penulis jenius yang juga adalah seorang freak. Kejeniusannya sangat diakui dalam dunia kepenulisan fiksi, khususnya dalam bentuk komik. Ia adalah sosok utama dari penulisan Watchmen, The Killing Joke, Promethea, dan V for Vendeta.

Dalam kesehariannya, ia menolak untuk mengikuti segala norma yang ada. Ia menyebut dirinya sebagai anarchist dan tergabung dalam sebuah sekte pagan, pemuja dewa romawi kuno.

Jadi tidak heran, bila cerita-ceritanya bisa membingungkan, atau juga terkadang mengerikan. Tapi tetap saja, sangat layak disebut sebagai karya yang luar biasa.

  • George Orwell

Tidak akan pernah selesai rasanya, bila saya diminta untuk membahas penulis yang satu ini. Adalah seorang sastrawan Inggris, yang memulai karir menulisnya sebagai pengulas buku.

Mahakaryanya yang berjudul 1984 dan Animal Farm diakui sebagai karya sastra yang sangat menakjubkan. Sulit dihitung berapa penghargaan yang telah didapatkan Orwell, dari dua novel distopianya tersebut.

Ada sebuah kutipan dari Orwell yang selalu saya ingat ketika sedang merangkai kata, yaitu jika ada kemungkinan untuk menghapus kata dalam sebuah kalimat, maka hapuskanlah.

  • Djenar Maesa Ayu

Seorang mantan pacar pernah menghadiahkan sebuah buku, karya dari Djenar yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! Dengan membaca judulnya saja, sudah langsung membuat kedua alis saya berdiri saat itu.

Djenar bukan hanya seorang penulis, ia adalah seorang seniman dengan paket yang cukup lengkap. Ia sudah memenangkan beberapa penghargaan di dunia layar lebar, baik sebagai aktris, sutradara maupun penulis skenario terbaik.

Tapi, bila saya diminta mendeskripsikan seorang Nay lewat karya-karya tulisnya. Maka Djenar Maesa Ayu adalah penulis wanita paling ‘berani’ yang pernah saya ketahui.

***

Kalau mau disimpulkan, mereka adalah tujuh penulis istimewa menurut versi saya pribadi.

Secara tidak langsung, mereka mampu mempengaruhi imajinasi, pola pikir dan bahkan juga selera. Sering kali membantu, sering juga tidak. Tergantung situasi dan kemampuan saya untuk memilahnya.

Idealisme dan ciri khas mereka, pastinya akan sangat sulit untuk ‘ditiru’, tapi bukan berarti tidak dapat dijadikan inspirasi untuk sebuah bentuk yang baru.

19 Comments Add yours

  1. Gerry Septiano berkata:

    Mantap bro panutannya, tertarik dengan Akira Toriyama, berjasa dalam mengisi waktu masa kecil. Jadi nostalgia deh. Great article!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s