Filosofi Indomie

Ibumu kemarin berpesan bahwa jika kau ingin membumi, maka belajarlah filosofi Indomie.

Walau sering dituduh sebagai sajian tak bergizi, tapi Indomie tak peduli. Karena toh, Indomie tidak pernah membual dengan issue tersebut. Jadi tuduhan itu hanya sebuah fallacy.

Tidak pernah umbar-umbaran janji, tapi selalu hadir pertama di tenda-tenda pengungsi. Tidak jua jorjoran promosi, tapi laku juga kok sampai ke benua hitam Afrika atau pun semenanjung Korea.

Dicap sebagai menu wajibnya para mahasiswa ‘kere’. Tapi tahukah kamu, bahwa indomie selalu tersusun rapih di sebagian dapur-dapur mewah Kota Baru. Indomie jugalah yang menjadi pengobat rindu para intelektual muda, kala merantau di luar negeri.

Indomie memang murah meriah, dapat dibeli dimana pun dan dimasak oleh siapa saja. Bukankah sudah sangat jelas, bahwa Indomie tidak pernah mengeksklusifkan diri.

Tapi jangan salah, ia juga yang menjadi salah satu sumbu dari akar rumput industri. Perhatikan saja, bagaimana warung jalanan meramu komposisi dan menjualnya sebagai menu yang baru.

Jadi kurang apa lagi coba?

Terakhir untuk kau ingat, ibumu pun sempat berpesan. Jangan pernah sekali-kali berpaling dari Indomie, jika masih ingin dianggap sebagai anak kandungnya sendiri.

20 Comments Add yours

  1. Fransisca berkata:

    Lucuuuu
    Aku terkesan baca postingan ini

    Disukai oleh 2 orang

    1. Rakha berkata:

      Terima kasih πŸ™

      Suka

  2. Frisca Sutanto berkata:

    Betulll! Bahkan mie instan di luar Indonesia masih kalah rasanya sama Indomie ini. Uda lebih murah, lebih enak pulaaak. Kurang apa lagi ya kan??

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rakha berkata:

      Hehe. Itu kenapa kalau ada kerjaan, bekal indomie pasti harus ada. 😁

      Suka

  3. hanna berkata:

    Indomie, selera semua anak bangsa πŸ˜…

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rakha berkata:

      100! 😊

      Disukai oleh 1 orang

  4. Alya Putri berkata:

    Indomie gak ada matinya

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rakha berkata:

      Apalagi yang rasa ayam bawang

      Disukai oleh 1 orang

  5. Indomie semakin di depan

    Disukai oleh 2 orang

    1. Rakha berkata:

      Hehe, kayak motor ya bung.

      Suka

  6. Inggrity berkata:

    Sedaaap hihihi

    Dari Indomie jadi puisi, mie sedaap nggak dibikinin juga? πŸ˜€

    Disukai oleh 2 orang

    1. Rakha berkata:

      Dilarang oleh Ibu, Nona. πŸ˜„

      Disukai oleh 1 orang

  7. Afridani berkata:

    Saya terharu sekaligus kenyang πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

    Disukai oleh 2 orang

    1. Rakha berkata:

      😁😁😁

      Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s