Merde!

Terhapus sudah semua semangat itu. Entah sedang terkubur atau telah hilang oleh terjangan angin lalu. Yang kutahu kini hanyalah diam dan termenung.

Dahulu ada seorang bijak yang mengatakan bahwa renungan akan membawa kesejukan. Aku berharap orang itu benar. Walau aku belum yakin, apakah sekarang sedang merenung atau melamun.

Aku sedang jenuh dengan semuanya. Inti otakku seperti terpaku ketika membuka pintu rumahku sendiri. Kemudian terasa semakin tertancap selama berada di dalam kamar. Bayangkan, di tempat yang telah menjadi nirwana di hampir sepanjang hidupku.

Aku masih bisa merasakan karatnya meresap dan merusak sel kehidupanku ketika menutup mata. Tempurung ini semakin menyempit dan mendempet semua tulang. Melahirkan sudut-sudut asimetris yang menyesakkan.

Tikus-tikus rumah menjadikan lemari pakaian seperti hotel berbintang untuk bermadu dan sarang laba-laba yang menghiasi langit kamar seperti payung-payung hijau di hutan hujan tropis.

Kubuka semua folder musik, tapi tak ada satupun yang dapat mendinginkan kepala. Dentuman drum, distori gitar dan lengkingan itu membuat semua enzim lambungku bereaksi . Dan semua poster-poster itu seakan hendak keluar untuk menyergap dan menyerang.

Aku ingin tidur sambil berteriak. Semua ini benar-benar tak kumengerti. Kini semua yang telah menjadi bagian hidup ini, membuatku muak.

Apakah semua itu telah hilang ?

Apakah iblis dalam jiwa ini telah bangun dan mencoba merengut kehidupanku ?

Padahal beberapa hari kemarin semuanya baik-baik saja. Aku bertoleran pada gerombolan tikus dan laba-laba yang berbagi tempat di kamar. Semua musik dan poster itu telah menjadi kebangaanku selama ini.

Aku bahagia dengan semua itu. Semua itu cukup !

Ini adalah veledrome utopisku. Dimana aku bisa berbaring tenang dan menjadi segalanya. Semua selain diriku adalah umat yang selalu akan menyembah dan mencium jari kaki ini.

Namun kini aku merasa berada di lantai neraka yang paling dasar. Seluruh tubuh selain kepalaku terkubur. Aku sudah tidak menjadi tuhan. Aku telah menjadi si terpidana. Dengan tubuh yang sudah melepuh dilalap panas dan mata yang sudah buta oleh lidah-lidah api.

Aku benci kamarku, rumahku dan terlebih lagi aku benci diriku sendiri.

Aku malu.

Sapiens adalah genus homo yang berinovasi. Sapiens juga merupakan spesies yang selalu merasa tidak puas. Itulah alasan mengapa mereka keluar meninggalkan gua, puluhan ribu tahun lalu. Sudah jelas mereka sadar, bahwa gua tidak akan selalu menjadi surga dan ada saatnya untuk menjadi neraka.

Aku tidak menunjukkan sifat-sifat itu. Aku seperti manusia purba yang terperangkap dalam tubuh milenial. Aku begitu terlena dengan menjadi tuhan di kamarku sendiri walau hanya sebagai titik kecil di luar sana.

Harusnya kupecahkan cermin yang selalu mengatakan bahwa aku adalah yang terhebat.

Aku bodoh.

Cermin itu belum pernah keluar dari kamarku. Merde!

7 Comments Add yours

  1. Shanyu berkata:

    kesenangan mutlak saya!

    Disukai oleh 1 orang

  2. Shanyu berkata:

    sangat tulus. Saya sangat menyukai emosi yang disampaikannya

    Disukai oleh 1 orang

    1. Rakha berkata:

      Terima kasih banyak 🙏

      Disukai oleh 1 orang

  3. Bang Ical berkata:

    “Manusia purba yang terperangkap tubuh milenial.” Merinding aku membacanya.

    Disukai oleh 2 orang

    1. Rakhadhitya berkata:

      🙏 dibawa sambil ngopi aja bang.

      Disukai oleh 1 orang

  4. Jan Kemah berkata:

    Tidak ada yg sempurna.. kadang merasa kuat terkadang lemah.. tulisan yg bgs 👌

    Disukai oleh 2 orang

    1. Rakhadhitya berkata:

      Terima kasih atas apresiasinya. 🙏

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s