Hadiah di Gerbong Sembilan

Sudah satu jam, ia duduk di sebuah gerbong kereta dalam kota. Dari tadi, tidak kunjung usai dirinya untuk terus menatap dan memperhatikan setiap orang yang ada di sini.

Tugas ini sungguh teramat penting. Sang atasan memerintahkan untuk memberikan sebuah hadiah yang sangat istimewa bagi seseorang.

Sangking istimewanya, yang mendapatkan haruslah yang amat layak. Hidup yang bersangkutan akan langsung berubah setelah menerimanya.

Maka itu sebabnya, ia amat berhati-hati dalam menentukan si pemenang. Ia tidak ingin sampai memilih orang yang keliru.

Mengernyitkan mata, memandang sekeliling sekali lagi. Memperhatikan wajah-wajah itu kembali lalu menghembuskan sebuah nafas panjang.

Mulai menilai dan menimbang sendiri, siapa yang harus dipilih untuk diajak pulang. Harus benar-benar teliti.

Semua penumpang gerbong sembilan ini, kerap kali menyampaikan permohonan pribadi mereka kepada atasan tertingginya, dan seperti biasa, permohonan-permohonan tersebut harus disortir melalui mejanya terlebih dahulu.

Ia juga sangat mengenal riwayat dari setiap orang yang ada di sini. Tidak ada yang sempurna memang, tapi ada beberapa yang cukup mencolok, sehingga layak menjadi penerima hadiah ini. Terhitung, sudah ada tiga yang masuk dalam daftar nominasi.

Ia sadar betul bahwa ketiganya benar-benar ingin untuk segera pulang. Menutup kedua mata sejenak dan kembali bertanya, mengapa harus dirinya yang mendapatkan tugas sesulit ini.

Tiba-tiba ada yang menyenggol bahunya kasar. Membuka mata dan cukup terkejut dengan siapa yang kini sedang berada di sebelahnya. Seorang teman lama yang kini sudah menjadi lawan, sedang menyeringai kepadanya.

Menelan ludah pelan lalu memandang aneh lawannya tersebut. Mantan kawannya ini, pasti bermaksud untuk mengganggu, seperti yang selalu dilakukan komplotannya selama ini.

“Mou! Apa kabar Bung?” sapa lawannya itu ramah.

“ Hallo Nick,” balas Mou ketus. “Sedang apa kau di sini?”

Nick tertawa pelan lalu menjawab, “Tempat kerjaku memang disini. Aku kan memang pekerja lapangan.”

Mengangkat alis seperti sedang menunjukkan kebanggaannya lalu kembali bertanya, “Justru mengapa pekerja kantoran sepertimu bisa ada di tempat seperti ini?”

Mou terdiam sesaat. Ia tidak dapat berbohong pada siapapun, juga tidak mau ada yang mengetahui tujuannya di gerbong ini.

;Tenang saja,” ujar Nick pelan.” Bukan kamu saja yang mendapat tugas penting di sini. Aku juga ditugaskan untuk membantumu menemukan sang pemenang itu”.

“Yang benar saja?” heran Mou.

Nick menertawakan pertanyaan tersebut. “itulah yang salah dari kalian. Kalian terlalu naif. Dengan kepekaan hati seperti itu, kalian tidak mungkin dapat bertahan lama di bawah sini”.

Ia memandang Mou sambil terus saja menggelengkan kepala, lalu lanjutnya lagi, ”Aku diperintahkan untuk mendampingimu agar dapat memberikan penilaian yang matang”.

“Kamu kira aku tidak bisa bersikap objektif?” tanya Mou lagi.

“Bukan aku, tapi Dia,” jawab Nick sambil melihat ke langit-langit gerbong.

Mou menundukkan wajah, mempertanyakan kredensialnya sendiri.

“Apa coba fungsi dari segala perbedaan di semesta ini? Ada air dan api. Antilop dan hyena. Begitu juga, kaummu dan kaumku.” lanjut Nick sambil berdecak.

“Perbedaan itu harus ada Mou, salah satunya agar setiap pemenang dapat dinilai secara objektif. Penilaianmu melawan penilaianku.”

Nick tersenyum karena maklum. Mou baru kali ini turun ke Bumi, dan tidak ada yang siap untuk langsung menjadi malaikat pencabut nyawa, saat hari pertama bekerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s