Warna Sang Anak Hawa

Ia masih saja termenung di sisi jalan. Matanya menghunus lurus ke depan, namun pikirannya masih berkelibat dengan perkataan kemarin.

Orang tua yang kepalanya selalu menyentuh tanah itu mengatakan, bahwa manusia harus berusaha untuk mencari sebuah warna.

Corak rupa yang tepat dengan pribadinya, agar Sang Anak Hawa dapat mendekati titik kesempurnaan.

Walhal ia menganggap bahwa orang itu hanya asal bicara, tapi sendi-sendi otaknya selalu melantunkan kalimat tersebut di telinga.

Maka, ia memutuskan untuk mencari sebuah warna. Pergilah ia ke sebuah taman bunga. Karena menurutnya, sangat sulit untuk mendapatkan satu, dari rombongan warna yang berselang cepat di alur jalanan.

Namun sebelum kakinya merasakan empuknya tanah taman, ia sudah tersenyum puas saat menengadahkan kepalanya.

Bibir merekah, merasa lega, seraya langkah kakinya mulai berbalik kembali menuju rumah. Ia mendapatkan satu yang tepat untuk dirinya.

Biru seperti langit. Berhenti sejenak untuk merayakan dengan semua tetes darah dalam tubuhnya, kemudian tersenyum kembali. Kali ini lebih puas dari sebelumnya.

Kemudian, tak lama langit berubah warna. Mengganti jubah birunya dengan selimut kelabu dan mulai melepaskan gerimisnya. Saat itu juga kepala Sang Anak Hawa itu tertunduk, pilihan tadi mengecewakannya.

Ia ingin warnanya abadi, tidak dapat mudah tergantikan. Semua tetes darahnya berhenti berpesta dan mentitahkan tubuh untuk kembali ke taman.

Untuk mendapatkan sebuah warna.

Sampai tubuh itu kuyup oleh hujan, ia belum juga benar-benar mendapatkan yang ia inginkan. Ia telah memilih Hijau, Merah, Kuning sampai Ungu.

Hampir semua warna yang tersaji disana sudah ia pilih, tapi ia belum cukup puas. Ia akan menjadi seorang yang besar, maka warnanya harus juga megah seperti dirinya nanti.

Jutaan asa yang tadinya melekat sudah mulai mengelupas. Wajah Sang Anak Hawa semakin lesu. Walaupun pikirannya masih ingin mendaki tebing penasarannya, tubuhnya sudah begitu saja direbahkan.

Hanya mencari sebuah warna padahal.

Menarik nafas panjang sambil menutup mata. Tapi beberapa saat kemudian terbelalak kaget. Oleh beberapa detik yang menayangkan sebuah warna untuknya.

Warna yang dari tadi sangat dihindarinya akhirnya tersaji oleh layar retinanya sendiri. Ia berkeras meyakinkan seluruh atom yang menopang dirinya, bahwa itu bukanlah warnanya.

Keringat dingin meresap keluar dari dahinya saat hari pun mulai berganti warna. Kini, warna itu tidak pernah lepas dari pandangannya.

Benteng penyangkalan diri mendadak runtuh. Itu memang warnanya. Setiap detik kehidupannya mencerminkan warna itu.

Itu memang dirinya.

Orang tua itu benar, Sang Anak Hawa mulai mengetahui dimana titik kesempurnaan itu dan dimana dirinya berpijak sekarang.

Kakinya melangkah lemas kehilangan arah. Ia sangat sadar bahwa pijakannya masih jauh dari titik itu. Warnanya menunjukan demikian, meskipun ia tahu bahwa hitam juga berarti ketiadaan warna.

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s